Burung pipit haji atau emprit haji (Lonchura maja) di farm Chan Aviary, Depok. (Trubus.id/ Hadi Nugroho)
Trubus.id -- Bagi sebagian masyarakat Indonesia, nama burung pipit, emprit, atau finch mungkin sudah tidak asing di telinga. Di wilayah Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayatinya, burung pipit memiliki beragam jenis.
Salah satu jenis pipit lokal di Chan Aviary, Depok. (Foto: Trubus.id/ hadi Nugraha)
Burung pipit sendiri bagi para petani memiliki arti tersendiri. Ia dikenal sebagai hama yang kerap mengganggu sawah padi mereka. Wajar saja jika burung pipit dimusuhi para petani. Pasalnya burung ini sangat gemar menyerang lahan pertanian, khususnya sawah padi para petani. Burung koloni ini kerap menyerang sawah petani dengan jumlah yang sangat banyak. Dampaknya, padi petani jadi sasarannya.
Namun saat ini, citra negatif burung pipit sudah mulai sirna. Kondisi ini terjadi karena sejak beberapa tahun terakhir, burung pipit mulai mendapat hati para pecinta burung, khususnya jenis finch. Di tangan hobiis ini, burung pipit memiliki nilai jual tinggi. Karena itu mulai banyak hobiis finch yang berusaha mengembangbiakkan burung ini.
Salah satunya hobiis yang kini tengah berupaya mengembangkan burung pipit adalah Syamsul. Pengurus farm Chan Aviary yang berlokasi di Jalan Curug Agung, Tanah Baru, Depok ini sudah beberapa waktu belakangan mengoleksi berbagai jenis burung pipit. Tak hanya burung pipit impor, Syamsul juga kini tengah fokus mengembangkan pipit lokal.
Syamsul dengan beraneka jenis burung finch di Chan Aviary yang ia kelola. (Foto: Trubus.id/ Hadi Nugraha).
Salah satu jenis yang kini tengah disiapkan adalah pipit haji atau emprit haji (Lonchura maja). Burung yang banyak ditemukan di Pulau Jawa dan Bali ini menurutnya tengah digemari hobiis di Indonesia. Tak hanya itu, burung ini juga banyak diminati di Eropa, khususnya di Belanda.
"Emprit haji sekarang banyak diminati di Belanda. Permintaan dari sana sekarang sudah banyak. Tapi kita masih kesulitan memenuhinya," terang Syamsul kepada Trubus.id belum lama ini.
Syamsul menuturkan, pipit haji mulai digemari setelah dalam ajang Indonesia Bird Con 2019 Maret silam, burung ini keluar sebagai juara umumnya. Saat itu, tim juri dipimpin ahli finch asal Belanda. Dalam kesempatan itulah ia menyampaikan kekagumannya pada pipit haji.
"Sayangnya permintaan dari Belanda itu belum terpenuhi, karena kita dari Indonesia Finch ingin burung yang diekspor itu adalah burung hasil ternakan," terang Syamsul mengutarakan kendalanya.
Yah, Syamsul mengakui, hingga saat ini banyak hobiis masih kesulitan menangkarkan burung dengan ciri-ciri kepala putih ini. Burung dari tangkapan alam yang sulit dijinakkan salah satu kendalanya. Di farmnya saja, sudah 3 bulan terakhir Syamsul menyiapkan burung pipit haji tangkapan alam untuk diternak. Namun hingga kini belum membuahkan hasil.
"Beberapa anggota komunitas (komunitas Finch) ada yang sudah berhasil (mengembangbiakkan pipit haji), tapi masih hibrid atau silangan dengan finch impor yang mudah diternak. Nanti hasilnya baru disilang lagi dengan finch lokal biar bisa dapat anak lokal yang sudah mulai adaptif dengan lingkungan manusia," terang Syamsul lagi.
Soal harga sendiri, pipit haji di Belanda memiliki harga yang fantastis. Ia menyebut, seekor burung pipit haji asal Indonesia bisa dihargai mulai dari Rp1,5-2 juta per ekornya.
"Harga itu dari Belanda sudah berikut ongkos kirim. Jadi mereka yang siapkan semuanya. Mulai dari izin sampai burung tiba di negara barunya," terang Syamsul lagi.
Di Indonesia sendiri burung pipit haji banyak dijumpai. Harganya juga relatif murah. Syamsul menyebut, untuk jenis pipit haji, biasanya dijual mulai dari Rp5-10 ribu per ekornya. Karena itu, dengan potensi yang ada dan kejelian para penggemar burung, syamsul melihat ada potensi burung ini untuk mendulang dolar di Eropa.
Bagaimana, tertarik mengembangbiakkan 'burung hama' yang 'mewah' ini?
Trubus.id -- Bagi sebagian masyarakat Indonesia, nama burung pipit, emprit, atau finch mungkin sudah tidak asing di telinga. Di wilayah Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayatinya, burung pipit memiliki beragam jenis.

Salah satu jenis pipit lokal di Chan Aviary, Depok. (Foto: Trubus.id/ hadi Nugraha)
Burung pipit sendiri bagi para petani memiliki arti tersendiri. Ia dikenal sebagai hama yang kerap mengganggu sawah padi mereka. Wajar saja jika burung pipit dimusuhi para petani. Pasalnya burung ini sangat gemar menyerang lahan pertanian, khususnya sawah padi para petani. Burung koloni ini kerap menyerang sawah petani dengan jumlah yang sangat banyak. Dampaknya, padi petani jadi sasarannya.
Namun saat ini, citra negatif burung pipit sudah mulai sirna. Kondisi ini terjadi karena sejak beberapa tahun terakhir, burung pipit mulai mendapat hati para pecinta burung, khususnya jenis finch. Di tangan hobiis ini, burung pipit memiliki nilai jual tinggi. Karena itu mulai banyak hobiis finch yang berusaha mengembangbiakkan burung ini.
Salah satunya hobiis yang kini tengah berupaya mengembangkan burung pipit adalah Syamsul. Pengurus farm Chan Aviary yang berlokasi di Jalan Curug Agung, Tanah Baru, Depok ini sudah beberapa waktu belakangan mengoleksi berbagai jenis burung pipit. Tak hanya burung pipit impor, Syamsul juga kini tengah fokus mengembangkan pipit lokal.

Syamsul dengan beraneka jenis burung finch di Chan Aviary yang ia kelola. (Foto: Trubus.id/ Hadi Nugraha).
Salah satu jenis yang kini tengah disiapkan adalah pipit haji atau emprit haji (Lonchura maja). Burung yang banyak ditemukan di Pulau Jawa dan Bali ini menurutnya tengah digemari hobiis di Indonesia. Tak hanya itu, burung ini juga banyak diminati di Eropa, khususnya di Belanda.
"Emprit haji sekarang banyak diminati di Belanda. Permintaan dari sana sekarang sudah banyak. Tapi kita masih kesulitan memenuhinya," terang Syamsul kepada Trubus.id belum lama ini.
Syamsul menuturkan, pipit haji mulai digemari setelah dalam ajang Indonesia Bird Con 2019 Maret silam, burung ini keluar sebagai juara umumnya. Saat itu, tim juri dipimpin ahli finch asal Belanda. Dalam kesempatan itulah ia menyampaikan kekagumannya pada pipit haji.
"Sayangnya permintaan dari Belanda itu belum terpenuhi, karena kita dari Indonesia Finch ingin burung yang diekspor itu adalah burung hasil ternakan," terang Syamsul mengutarakan kendalanya.
Yah, Syamsul mengakui, hingga saat ini banyak hobiis masih kesulitan menangkarkan burung dengan ciri-ciri kepala putih ini. Burung dari tangkapan alam yang sulit dijinakkan salah satu kendalanya. Di farmnya saja, sudah 3 bulan terakhir Syamsul menyiapkan burung pipit haji tangkapan alam untuk diternak. Namun hingga kini belum membuahkan hasil.
"Beberapa anggota komunitas (komunitas Finch) ada yang sudah berhasil (mengembangbiakkan pipit haji), tapi masih hibrid atau silangan dengan finch impor yang mudah diternak. Nanti hasilnya baru disilang lagi dengan finch lokal biar bisa dapat anak lokal yang sudah mulai adaptif dengan lingkungan manusia," terang Syamsul lagi.
Soal harga sendiri, pipit haji di Belanda memiliki harga yang fantastis. Ia menyebut, seekor burung pipit haji asal Indonesia bisa dihargai mulai dari Rp1,5-2 juta per ekornya.
"Harga itu dari Belanda sudah berikut ongkos kirim. Jadi mereka yang siapkan semuanya. Mulai dari izin sampai burung tiba di negara barunya," terang Syamsul lagi.
Di Indonesia sendiri burung pipit haji banyak dijumpai. Harganya juga relatif murah. Syamsul menyebut, untuk jenis pipit haji, biasanya dijual mulai dari Rp5-10 ribu per ekornya. Karena itu, dengan potensi yang ada dan kejelian para penggemar burung, syamsul melihat ada potensi burung ini untuk mendulang dolar di Eropa.
Bagaimana, tertarik mengembangbiakkan 'burung hama' yang 'mewah' ini?





