Komunitas pecinta burung finch dari Jabodetabek Finch Community (JFC) menggelar acara buka puasa bersama sekaligus diskusi dalam upaya mengangkat nama finch lokal. (Foto: Trubus.id/ Syahroni)Berawal dari hobi yang sama, hobiis pipit dari wilayah seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi ini kerap meluangkan waktu bersama untuk saling berbagi pengalaman dalam memelihara dan mengembangbiakan burung pipit ini. Tak hanya burung pipit impor, mereka juga menaruh perhatian yang sama pada burung pipit lokal.Seperti di ketahui, Indonesia memiliki beragam jenis pipit yang tersebar di berbagai penjuru wilayahnya. Pipit-pipit ini kerap dianggap sebagai hama karena sering menyerang lahan pertanian warga. Padahal, dari kacamata hobiis finch, burung ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Dwi, bu Chandra dan Om Konang yang tergabung dalam JFC sangat antusias mengangkat derajat finch lokal yang selama ini dianggap hama. (Foto: Trubus.id/Syahroni)Ibu Chandra, pemilik Chan Aviari di kawasan Beiji, Depok menjelaskan, awalnya ia mulai tertarik dengan burung finch karena keindahan bulunya. Namun yang pertama dikenal memang finch impor seperti jenis gold amadin. Namun ketika ia mengenal beragam jenis finch lokal, hatinya langsung tergugah untuk mengembangbiakkannya."Yah, awalnya sih tertarik sama finch import yah, karena warna bulunya yang indah. Tapi belakangan saya melihat finch lokal juga punya potensi yang sama. Mereka juga cantik dan layak dikembangkan. Makanya sekarang saya mulai mencoba mengembangbiakkannya," terang bu Chandra saat komunitas JFC menggelar acara buka puasa bersama di bird farm miliknya, Sabtu (25/5) lalu.Menanggapi hal itu, Danu, salah satu punggawa JFC mengakui, finch lokal sebenarnya baru mulai banyak dikenal sejak finch lokal asal Papua yang memiliki beraneka ragam warna masuk ke Pulau Jawa setahun yang lalu. Saat itu yang masuk baru jenis Crimson dan Chesnut."Sejak finch asal Papua itu masuk, finch lokal baru mulai mendapat perhatian. Karena warna awalnya. Lalu mulai banyak lagi finch lokal dari daerah lain yang mulai banyak diperlihara. Puncaknya saat Indonesia Bird Con 2019 (IBC) digelar April silam. Di situ finch lokal, yaitu Empit Haji (Lonchura maja), keluar jadi juara umumnya. Padahal jurinya dari eropa, kiblat finch Indonesia," terang Danu kepada Trubus.id di kesempatan yang samaSejak keluar sebagai juara umum di ajang bergengsi IBC, masyarakat mulai banyak yang berupaya mengembangbiakan finch lokal ini. Namun finch lokal ini banyak dipelihara bukan karena keindahan warna dan bentuk fisiknya saja sebagaimana kriteria burung yang dilombakan di ajang Beauty Contest, Finch lokal juga banyak dipelihara karena kemampuannya menirukan suara burung lain.Om Konang, salah satu punggawa JFC menambahkan, semua burung finch pada dasarnya punya potensi untuk diajarkan untuk meniru suara burung lain. Termasuk finch lokal. Namun pemasteran, atau proses mengajari burung-burung ini agar bisa menirukan suara burung lain yang harus jadi perhatian karena ada tahapan-tahapannya.Namun biasanya untuk mempermudah, proses pemasteran dilakukan sejak burung masih sangat belia. Untuk itu, JFC mendorong proses budidaya untuk mendapatkan anakan dari hasil penangkaran agar bisa dimaster ataupun dipersiapkan untuk lomba kecantikan atau beauty contest."Pembuktiannya nanti dengan menggunakan ring. Jadi yang pakai ring ini ketauan dari hasil ternak. Tujuannya agar penangkapan liar bisa dikontrol," terang Om Konang.
kumparan
Dwi, bu Chandra dan Om Konang yang tergabung dalam JFC sangat antusias mengangkat derajat finch lokal yang selama ini dianggap hama. (Foto: Trubus.id/Syahroni)Ibu Chandra, pemilik Chan Aviari di kawasan Beiji, Depok menjelaskan, awalnya ia mulai tertarik dengan burung finch karena keindahan bulunya. Namun yang pertama dikenal memang finch impor seperti jenis gold amadin. Namun ketika ia mengenal beragam jenis finch lokal, hatinya langsung tergugah untuk mengembangbiakkannya."Yah, awalnya sih tertarik sama finch import yah, karena warna bulunya yang indah. Tapi belakangan saya melihat finch lokal juga punya potensi yang sama. Mereka juga cantik dan layak dikembangkan. Makanya sekarang saya mulai mencoba mengembangbiakkannya," terang bu Chandra saat komunitas JFC menggelar acara buka puasa bersama di bird farm miliknya, Sabtu (25/5) lalu.Menanggapi hal itu, Danu, salah satu punggawa JFC mengakui, finch lokal sebenarnya baru mulai banyak dikenal sejak finch lokal asal Papua yang memiliki beraneka ragam warna masuk ke Pulau Jawa setahun yang lalu. Saat itu yang masuk baru jenis Crimson dan Chesnut."Sejak finch asal Papua itu masuk, finch lokal baru mulai mendapat perhatian. Karena warna awalnya. Lalu mulai banyak lagi finch lokal dari daerah lain yang mulai banyak diperlihara. Puncaknya saat Indonesia Bird Con 2019 (IBC) digelar April silam. Di situ finch lokal, yaitu Empit Haji (Lonchura maja), keluar jadi juara umumnya. Padahal jurinya dari eropa, kiblat finch Indonesia," terang Danu kepada Trubus.id di kesempatan yang samaSejak keluar sebagai juara umum di ajang bergengsi IBC, masyarakat mulai banyak yang berupaya mengembangbiakan finch lokal ini. Namun finch lokal ini banyak dipelihara bukan karena keindahan warna dan bentuk fisiknya saja sebagaimana kriteria burung yang dilombakan di ajang Beauty Contest, Finch lokal juga banyak dipelihara karena kemampuannya menirukan suara burung lain.Om Konang, salah satu punggawa JFC menambahkan, semua burung finch pada dasarnya punya potensi untuk diajarkan untuk meniru suara burung lain. Termasuk finch lokal. Namun pemasteran, atau proses mengajari burung-burung ini agar bisa menirukan suara burung lain yang harus jadi perhatian karena ada tahapan-tahapannya.Namun biasanya untuk mempermudah, proses pemasteran dilakukan sejak burung masih sangat belia. Untuk itu, JFC mendorong proses budidaya untuk mendapatkan anakan dari hasil penangkaran agar bisa dimaster ataupun dipersiapkan untuk lomba kecantikan atau beauty contest."Pembuktiannya nanti dengan menggunakan ring. Jadi yang pakai ring ini ketauan dari hasil ternak. Tujuannya agar penangkapan liar bisa dikontrol," terang Om Konang.kumparan





